Beranda Berita Meski Pandemi Covid-19, Petani Milenial Polbangtan Bogor ini Tetap Semangat Dampingi Petani Cabai di Cianjur

Meski Pandemi Covid-19, Petani Milenial Polbangtan Bogor ini Tetap Semangat Dampingi Petani Cabai di Cianjur

Monday, 04 May 2020   Oleh: Administrator   148

Dalam setiap kesempatan, Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) selalu menegaskan bahwa sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang menjadi penopang perekonomian bangsa Indonesia, ditengah keresahan bangsa Indonesia dalam menghadapi pandemi wabah virus Covid-19. Peran petani milenial, menurut SYL saat ini sangat diperlukan dalam pengelolaan pertanian modern.   “Saya makin percaya anak muda yang mau terjun di bidang pertanian bisa punya peluang kehidupan dan ekonomi yang lebih baik. Apalagi dengan memanfaatkan teknologi yang tersedia, maka dunia dalam genggaman kalian,” ujar Menteri Syahrul.

Berdasarkan data saat ini Indonesia memiliki 33,4 juta petani. Sejumlah 30,4 juta (sekitar 91%) sudah berusia tua. Hanya 2,5 juta atau sekitar 9% yang merupakan petani milenial.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan Dedi Nursyamsi menambahkan bahwa pertanian merupakan garda terdepan di tengah pandemi covid-19 ini. Untuk itu perlu pelopor pertanian yang diharapkan membuat jejaring untuk menarik minat generasi milenial menekuni usaha di bidang pertanian. Selain sebagai penghela peningkatan produktivitas tenaga kerja pertanian serta produktivitas lahan dan komoditas.

Salah satu petani milenial PolbangtanBogor, Okta Pujayana pun tidak ketinggalan mendampingi petani meski dalam suasana pandemi Covid-19. Saat ini Okta sedang melaksanakan Tugas Akhir di Desa Gekbrong Kecamatan Gekbrong Kabupaten Cianjur.

Desa Gekbrong, merupakan desa yang mayoritas penduduknya bermatapencaharian sebagai petani dibidang hortikultura. Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Gekbrong sangat berperan dalam kegiatan petani melakukan usahatani dan membimbing beberapa kelompoktani.

“Desa Gekbrong memiliki ketinggian tempat 888 s/d 1.300 mdpl, sehingga sangat cocok untuk tanaman hortikultura,” ujar Okta.

Saat ini, lanjut Okta,  petani di desa Gekbrong, khususnya kelompok tani Gede Harapan memulai musim tanam cabai pada pertengahan bulan maret hingga awal bulan April, dengan luas tanam sekitar 4 Ha.

Uden Suherlan, Ketua Kelompoktani Gede harapan menuturkan bahwa cabai yang ditanaman  anggota kelompoktaninya tidak hanya dengan satu varietas. “Kami tanami cabai merah besar dengan varietas Kastilo F1,Hybrid Hot Paper F1, Madun, Ayu 04F1,Juro F1, Kiyo F1, Serambi dan cabai kecil dengan varietas Dhanu 388,” jelas Uden.

Virus Corona, wabah penyakit menular yang banyak menelan korban, bahkan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo menyatakan saat ini Indonesia mengalami bencana Nasional, sehingga banyak kegiatan dan aktivitas yang dihentikan. Namun tidak untuk para petani, ditengah wabah penyakit menular yang saat ini kita rasakan, petani saat ini berjuang untuk memenuhi akan kebutuhan pokok manusia, selain para tim medis yang merupakan garda terdepan, para petani juga berjuang untuk memenuhi akan asupan pangan khususnya untuk rakyat Indonesia.

Hingga saat ini para petani cabai di Desa Gekbrong melakukan penanaman hingga produksi cabai dan sayuran lainnya. Okta pun ikut mendorong kegiatan para petani, dalam penerapan pemupukan berimbang pada tanaman cabai dengan tujuan memperoleh hasil produksi yang meningkat dan sesuai harapan para petani.