mail@polbangtan-bogor.ac.id
(0251) 8386312

STPP Bogor dampingi Panen Perdana Kabupaten Lingga

Program cetak sawah masih terus berlanjut sampai target selesai sekitar 467 hektare.

Mahasiswa Sekolah Tinggi Penyuluh Pertanian (STPP) Bogor. Jawa Barat, mendampingi petani Desa Marok Kecil, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau, panen perdana.
“Masyarakat yang kami dampingi merasa hasil panen yang diperoleh cukup baik, dan pertumbuhan padi sudah sangat baik,” kata Riyyan, salah satu mahassiwa STPP Bogor ketika dihubungi dari Bogor, Senin.
Riyyan bersama 24 mahasiswa STPP Bogor lainnya mengikuti praktik kerja lapangan (PKL) dan pengawalan upaya khusus atau Upsus mendukung swasembada pangan di wilayah perbatasan Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau.
Menurut Riyyan, masyarakat Desa Marok Kecil baru pertama kali menanam padi dan memanennya sehingga masyarakat mengapresiasi hasil panen yang didampingi oleh mahasiswa STPP Bogor.
Ia mengatakan pada tahun 2017 Desa Marok Kecil mendapat program pencetakan sawah baru hingga saat ini sudah tercetak kurang lebih 70 hektare sawah.
“Program cetak sawah masih terus berlanjut sampai target selesai sekitar 467 hektare,” katanya.
Dari 70 hektare sawah yang tercetak, lanjutnya, baru sekitar 2.500 meter persegi yang telah ditanami komoditas padi, dan baru panen sekitar tanggal 27 Februari 2018.
Sebanyak 15 mahasiswa STPP Bogor dan Malang mendampingi petani di Desa Marok Kecil. Rata-rata mata pencaharian penduduk setempat adalah nelayan dan penderes karet, sesuai letak geografis wilayah tersebut
Desa Marok Kecil berada di sebelah selatan Kecamatan Singkep Selatan dan dihuni sekitar 300 kepala keluarga (KK) yang tersebar di berbagai dusun.
“Masyarakat suka cita menyambut kedatangan mahasiswa STPP Bogor yang akan mendampingi selama tiga bulan ini,” kata Riyyan.
Yuspi mahasiswa lainnya mengatakan setibanya di Desa Marok Kecil, Kabupaten Lingga, mahasiswa mencoba membuka ubinan baru seluas 2,5 x 2,5 meter.
“Kami langsung memberikan penyuluhan kepada petani di lapangan,” kata Yuspi.
Menurutnya hasil ubinan tersebut jika dikonversi ke dalam satu hektare maka akan diperoleh hasil panen padi kurang lebih 3,2 ton gabah kering pungut (GKP) atau gabah kering panen.
“Angka ini masih jauh dari angka produktivitas nasional,” katanya.
Yuspi menambahkan dengan melihat semangat dari masyarakat mahasiswa bertekad untuk membantu petani mengubah perilaku petani agar mampu membudidayakan padi dengan teknik dan metode yang baik serta tersertivikasi.
Wakil Ketua II STPP BOgor Tri Ratnasari Dewi mengatakan mahasiswa STPP Bogor bersama-sama mendukung program pemerintah di wilayah perbatasan melalui kegiatan PKL tersebut.

“Dengan PKL dan pendampingan ini mahasiswa termotivasi untuk membangun pertanian Indonesia, memberikan kontribusi positif bidang pertanian,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDID