mail@polbangtan-bogor.ac.id
(0251) 8386312

Mahasiswa STPP Bogor dampingi peternak babi semuntik

Penyuluhan tentang pemeliharaan babi ini sangat diperlukan bagi warga desa, mengingat setiap warga memelihara babi di pekarangan rumahnya
Mahasiswa Sekolah Tinggi Penyuluh Pertanian (STPP) Bogor, memberikan penyuluhan kepada peternak di Desa Semuntik, Kecamatan Badau, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.
Pandu Dewa Raharjo, salah satu mahasiswa STPP Bogor sekaligus pendamping wilayah perbatasan, dan pelaksana penyuluhan, dalam keterangannya yang diterima Antara di Bogor, Kamis, mengatakan, kegiatan penyuluhan yang dilaksanakan berisi tentang pemeliharaan babi dan pembuatan pupuk kompos.
“Penyuluhan tentang pemeliharaan babi ini sangat diperlukan bagi warga desa, mengingat setiap warga memelihara babi di pekarangan rumahnya,” kata Pandu.
Ia mengatakan, ternak babi menjadi aktivitas utama warga di Desa Semuntik. Jika dipresentasi, hampir 90 persen warga beternak babi.
Kegiatan penyuluhan ini, lanjutnya, dihadiri oleh peternak, masyarakat sekitar dan juga kepala dusun serta aparat Desa Semuntik.
Menurutnya, warga desa cukup antusias untuk mengikuti kegiatan penyuluhan yang dilakukan oleh mahasiswa.
“Masyarakat desa sangat menghormati dan merangkul mahasiswa yang datang, sehingga mahasiswa merasa tugas sebagai pendamping wilayah perbatasan menjadi kebanggan tersendiri,” katanya.
Pandu menyebutkan, penyuluhan memberikan suasana nyata di kehidupan peternak Desa Semuntik, sebab babi yang ada di pekarangan rumah tidak terurus terlebih lagi kotoran yang bau karena tidak dimanfaatkan bahkan didiamkan di pekarangan begitu saja.
“Bahkan kotoran dibiarkan begitu saja di pekarangan rumah hingga berhari-hari bahkan berminggu-minggu,” katanya.
Pandu menambahkan, dengan penyuluhan ini, mahasiswa melatih warga Desa Semuntik cara memelihara ternak babi yang benar, dan memanfaatkan kotorannya sebagai kompos.
Dosen sekaligus perwakilan STPP Bogor, Endang Endrakasih menyebutkan, penyuluhan adalah salah satu bentuk kegiatan yang aktif dan domonstratif, menjadi wahana untuk membekali peternak.
Ia mengatakan, kegiatan penyuluhan peternakan di Desa Semuntik sedikit unik karena dilakukan dalam keadaan gelap.
“Ini karena pasokan listrik di Desa Semuntik hanya sampai pukul 21.00 WIB, sedangkan penyuluhan tidak mengenal waktu kapan selesainya,” kata Endang.
Ia menjelaskan, sumber listrik di Desa Semuntik berasal dari tenaga Surya, sehingga pasokan cepat habis jika pemakaian berlebihan.
“Konsumsi listrik jadi berlebihan karena mahasiswa juga mengisi ulang daya laptop, hp dan lainnya,” katanya.
Selain segala keterbatasannya, penyuluhan di Desa Semuntik juga terbilang penuh tantangan. Salah satunya saluran air yang tidak masuk ke rumah warga, sehingga mahasiswa yang menetap harus mandi ke sungai terdekat.
“Yang membuat takjub dari Desa Semuntik , mahasiswa mandinya pun harus ke sungai,” kata Endang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDID