mail@polbangtan-bogor.ac.id
(0251) 8386312

Polbangtan Bogor Beri Tambahan Wawasan untuk Petani dan Penyuluh

BOGOR – www.polbangtan-bogor.ac.id | Untuk lebih memaksimalkan peran SDM, Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor menyelenggarakan Bimbingan Teknis Peningkatan Kapasitas Petani dan Penyuluh Pertanian di wilayah Kota Bogor. Acara ini dilaksanakan 1-2 Maret 2021, di Hotel Salak Heritage, Bogor.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan, petani dan penyuluh merupakan garda terdepan mewujudkan cita-cita Indonesia menjadi lumbung pangan.

“Petani adalah pelaku penyedia pangan. Penyuluh pertanian sebagai pendamping petani, mendampingi manajemen pertanian di lapangan. Penyuluh Pertanian menuntun petani melakukan agribisnis yang tepat dari hulu ke hilir, mulai dari tanam sampai petik hingga jual, sehingga pembangunan pertanian yang dilaksanakan mengarah kepada pertanian maju, mandiri dan modern,” katanya.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi, mengatakan bahwa pertanian tidak boleh berhenti, petani harus didampingi menggenjot produksi pertanian, karena pertanian tidak boleh bersoal.

“Sebagai pendamping petani, penyuluh harus terus siaga berada di lapangan untuk mendampingi petani dan memastikan produksi pertanian terus berlanjut,” ujarnya.

Oleh karena itu, BPPSDMP tak henti-hentinya berupaya meningkatkan kualitas dan kompetensi petani dan penyuluh. Karena pertanian membutuhkan SDM handal yang mampu menggerakkan pembangunan pertanian.

Direktur Polbangtan Bogor, Siswoyo, mengatakan bimtek tersebut diharapkan dapat memberikan pengetahuan dan wawasan terhadap para petani dan penyuluh di kota Bogor.

“Kota Bogor ini merupakan daerah yang pertaniannya dianggap memiliki kemajuan,” ujar Siswoyo.

Pada bimtek kali ini, Polbangtan Bogor menghadirkan seorang dokter tanaman dari Klinik Tanaman IPB, Bonjok Istiadi, serta pakar penyakit tanaman, Said Abdullah.

Tema yang diangkat pada Bimtek adalah Pertanian Pekarangan Lestari. Peserta difasilitasi oleh praktisi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) dan peneliti dari Nastari Foundation.

“Tanaman bisa berkomunikasi dengan kita. Tapi bukan bahasa lisan, melainkan dengan bahasa isyarat,” ucap Bonjok Istiadi, SP., M.Si membuka sesi pertama.

Peserta banyak mendapat informasi mengenai bagaimana cara mengomposkan yang baik. Bahan-bahan apa saja yang bisa dijadikan kompos.

Peserta juga dapat berkonsultasi secara gratis dengan dokter tanaman, tentang penyakit-penyakit dan hama yang menyerang lahan peserta, untuk kemudian diberi solusi dan cara menangani masalah tersebut.

Bonjok Istiadi bahkan mengupas tuntas cara menangani belatung yang sering ada di dalam belahan cabai. Dosen di Fakultas Pertanian IPB ini juga memberi beberapa tips supaya tanaman terhindar dari lalat buah dengan membuat sendiri perangkat lalat buah.

“Perangkat lalat buah bisa dibuat dari botol air mineral yang digunting, kemudian diisi air dengan diberikan hormon supaya merangsang si lalat untuk bereproduksi di dalam botol tersebut, bukan menyerang cabainya,” jelasnya.

Sementara Said Abdullah menilai acara ini harus sering dilakukan, untuk terus memantau kinerja petani. Karena pertanian ini kan menyangkut soal ketahanan pangan masyarakat.

“Dari sisi antuasiasme, saya melihat ada optimisme yang besar dari peserta. Keberhasilan KWT KTT kedepan harus diimbangi dengan proses pendampingan. Secara fundamental, petani lokal kita sudah memiliki pengalaman yang cukup kuat. Jadi proses pendampingannya jangan hanya berhenti di bimtek ini saja,” ujar Said Abdullah.

Pewarta: Ardianinda Wisda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bahasa >>