mail@polbangtan-bogor.ac.id
(0251) 8386312

Pulang Rimba, Kisah Mahasiswa Polbangtan Kementan ini Diangkat Jadi Film Dokumenter

BOGOR – https://polbangtan-bogor.ac.id | Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor memiliki mahasiswa yang berasal dari beragam penjuru di seluruh Indonesia. Tidak terkecuali Pauzan, Pemuda Keluarga Orang Rimba alias Suku Anak Dalam.
Pauzan yang kini duduk di Semester V, Program Studi Penyuluhan Pertanian Berkelanjutan bertekad menyelesaikan kuliahnya, mengejar gelar Sarjana Terapan Pertanian (S.Tr.P).

Jika lulus nanti, Pauzan akan jadi generasi pertama Suku Anak Dalam yang bisa menyandang gelar sarjana.

Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo meyakini melalui pendidikan vokasi pada Politeknik Pembangunan Pertanian [Polbangtan] akan hadir para petani milenial yang berkualitas.

“Dengan pendidikan vokasi, kami berharap hadir petani milenial yang mampu memberikan inovasi dalam pertanian, karena bagaimana pun, masa depan pertanian berada di pundak generasi milenial,” katanya.

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi, menyampaikan bahwa petani milenial mempunyai peran penting dalam melanjutkan pembangunan disektor pertanian.

“Sehingga, dibutuhkan dukungan dari SDM pertanian. Selain itu SDM pertanian adalah pengungkit terbesar produktivitas pertanian. Maka pendidikan vokasi menjadi salah satu kunci terhadap cikal bakal lahirnya petani milenial,” kata Dedi.

Kisah menyentuh perjuangan Pauzan ini membuat Rahmat Triguna alias Mamato tertantang untuk mengangkat perjalanan hidup Pauzan menjadi film dokumenter.

Bersama dengan produser Noor Huda Ismail dan Annisa Triguna, Mamato menggandeng Kreasi Prasasti Perdamaian untuk memproduksi film dokumenter berjudul Pulang Rimba.

Sutradara film Pulang Rimba, Mamato menyebut pemilihan judul “Pulang Rimba” salah satunya melihat semangat Pauzan yang nantinya ingin kembali pulang ke sukunya mengembangkan pertanian di sana.
“Ini adalah sekuel pertama, ke depan akan ada sekuel film selanjutnya dari kisah Orang Rimba atau Suku Anak Dalam yang menempuh pendidikan tinggi,” ujar Mamato.

Film berdurasi 15 menit ini mengisahkan tentang tantangan Pauzan menempuh pendidikan tinggi. Tantangan yang dihadapi mulai dari geografis wilayah hingga persoalan adat yang turun-temurun dipercaya.
Pauzan bercerita, pendidikan Suku Anak Dalam cukup ditakutkan para orangtua. Sebabnya, ada anggapan jika semakin tinggi pendidikan maka akan pergi jauh merantau. Data teranyar dari dinas sosial setempat, hingga Juli 2022 dari sekitar 4000 Orang Rimba, hanya 117 yang bersekolah dan 4 di antaranya yang berkuliah.

“Orangtua jadi takut, jadi nanti gara-gara pendidikan nanti nggak pulang-pulang (tidak kembali ke komunitas sukunya),” kata Pauzan.

Persoalan lainnya, mulai dari mayoritas Orang Rimba di sana, seusia Pauzan sudah punya anak. Mereka tidak perlu menempuh pendidikan tinggi-tinggi, cukup sekadarnya dan bekerja kasar di hutan atau di kebun.

Soal tradisi, ada kebiasaan bernama melangun, yakni berpindah dari satu hutan ke hutan lain untuk mencari sumber penghidupan, entah itu dari tumbuh-tumbuhan atau berburu hewan liar. Melangun juga dilakukan pihak keluarga ketika ada anggotanya yang meninggal dunia.

Namun sekarang, kata Pauzan, hutan sudah mulai habis. “Jadi mau berpindah ke mana lagi?,” sambungnya.

Pauzan tinggal di Desa Air Panas, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi. Dari pusat kota, lokasi itu ditempuh sekira 7 jam perjalanan mobil ditambah 2 jam sepeda motor.
“Nantinya setelah lulus akan pulang ke kampung, mengembangkan pertanian,” sebut Pauzan.

Film-film dokumenter lainnya karya KPP, sebut Mamato, mengangkat aneka fenomena. Mulai dari Pandemi Covid-19, LGBT hingga isu radikalisme terorisme. Film, disebutnya, sebagai media yang mudah untuk menyajikan suatu fenomena dan kemudian dibahas dengan diskusi bersama.

“Selalu berbasis empati. Menempatkan karakter yang kita filmkan sebagai credible voice, mereka punya suara yang kredibel untuk berbagi kisah,” lanjut Mamato.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bahasa >>