mail@polbangtan-bogor.ac.id
(0251) 8386312

Polbangtan Kementan Jadikan Smart Agriculture sebagai Pendukung Pertanian Masa Depan

BOGOR – Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor menggelar Seminar Nasional dengan tema Smart Agriculture, Pendukung Pertanian Masa Depan sebagai penutup rangkaian akhir dari perhelatan Dies Natalis ke-5 pada Rabu, (20/9) bertempat di Aula Kampus Cibalagung, Kota Bogor.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL), meyakini kaum milenial yang inovatif dan memiliki gagasan yang kreatif mampu mengawal pembangunan pertanian yang maju, mandiri, modern. SYL menyampaikan setiap inovasi yang dihasilkan merupakan potensi masa depan untuk membuka lapangan pekerjaan.
“Generasi Z juga harus bisa mengikuti perkembangan dari zaman, harus berani menjadi petani yang modern atau mendirikan start-up pertanian,” tegas Mentan Syahrul.

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi, menyampaikan bahwa petani milenial mempunyai peran penting dalam melanjutkan pembangunan disektor pertanian.
“Tunjukan bahwa petani milenial dapat menjadi pionir untuk peningkatan kapasitas pertanian dan petani. Kita harus bekerja keras, cepat, cermat dan akurat. Tinggalkan cara-cara lama dan gunakan cara-cara baru berbasis internet of things,” kata Dedi Nursyamsi.

Seminar Nasional Polbangtan Bogor tahun ini dikemas secara hybrid dan juga disiarkan secara live streaming di Youtube Channel Polbangtan Bogor Official menggandeng profesional yang ahli serta praktisi pertanian sebagai keynote speaker. Diantaranya: Edi Santosa selaku Ketua Departemen Agronomi dan Hortikultura yang menyampaikan tentag Smart Agriculture Mendukung Pertanian Masa Depan: Recent Status dan Arah Pengembangan.
Edi mengatakan bahwa konsep baru dalam pengelolaan sumber daya dan lingkungan pertanian menggunakan teknologi informasi dan komunikasi modern, robotika (instrumentasi), drone, dan AI (kecerdasan buatan) secara terintegrasi dengan IoT dalam rangka meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan keberlanjutan pertanian.

Menurut Edi, dalam menerapkan Smart Agriculture, harus memenuhi prinsip-prinsip sebagai berikut:

  1. Sensor dan Sensing: Mengumpulkan data tanah, cuaca, kelembaban, dan faktor lainnya. Data untuk mengambil keputusan penggunaan sumber daya (air dan pupuk).
  2. Analisis Data: Data besar dari sensor dan perangkat lainnya dapat dianalisis untuk memberikan wawasan tentang kondisi pertanian yang sebenarnya.
  3. Automatisasi/Robotika/AI: Penggunaan otomatisasi, robotik dan AI meningkatkan efisiensi dalam tugas-tugas seperti penyemprotan pestisida, panen, dan pemeliharaan.
  4. Pemantauan Pertanian Berbasis Drone: Gambaran visual yang jelas tentang kondisi tanaman dan tanah, memungkinkan petani untuk mengambil tindakan yang tepat waktu.
  5. IoT (Internet of Things): Komunikasi real time untuk mengakses informasi tentang pasar, cuaca, dan praktik terbaik.
  6. Pertanian Presisi: Dalam input, proses, panen, dan produk.
  7. Pengelolaan Sumber Daya yang Berkelanjutan: menjamin kelangsungan usaha.

Dalam kesempatan yang sama, Abdul Roni Angkat selaku Kepala Balai Pelatihan Pertanian Lampung, memaparkan bahwa dalam menghadapi pertanian di masa depan, ada 5 program Kementerian Pertanian yang dapat mendukung smart agriculture. Diantaranya Program tentang ketersediaan, akses, dan konsumsi makanan berkualitas, Program tentang penambahan nilai dan daya saing industri, Program Penelitian dan Inovasi Sains dan Teknologi, Program tentang Pendidikan dan Sekolah Kejuruan, serta Program Dukungan Manajemen.

Roni menambahkan alasan mengapa smart farming sangat diperlukan, karena adanya Perubahan iklimdan dinamika lingkungan sehingga tidak memungkinkan lagi Bertani secara manual bergantung pada alam karena akan mengganggu produksi masa tanam dan hasil tani. Selain itu, Sumber Daya Alam Terbatas, modal dan pengetahuan milenial yang berkembang juga turut mengambil peran.

Selain akademisi dan pegawai Kementerian Pertanian, Prastyo Ruandhito selaku CEO dan Co-Founder BroilerX juga mencuri antusias peserta seminar. Prastyo menegaskan bahwa Pemanfaatan aplikasi digital dan Internet of Things di Pertanian Transformasi digital penting untuk dapat memajukan industri dan menjadi lebih transparan

Selain seminar talkshow, acara ini diramaikan juga oleh presentasi oral dari 46 orang pemakalah yang telah mengumpulkan hasil karyanya Dimana pemanggilan peserta sudah dilakukan sejak 2 bulan sebelumnya. Adapun cakupan topik untuk paper yang dikompetisikan meliputi Agroteknologi, Sosial Ekonomi Pertanian, Peternakan dan Kesehatan Hewan, Teknik Pertanian dan Biosistem, serta Penyuluhan dan Pemberdayaan.

Penulis artikel: Ardianinda Wisda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDID