mail@polbangtan-bogor.ac.id
(0251) 8386312

Tingkatkan Kualitas Hewan Ternak, Polbangtan Kementan Siap Hadapi Antisipasi Darurat Pangan

BOGOR – Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor Kementerian Pertanian (Kementan) tidak main-main dalam menunjukkan keterlibatannya mengantisipasi darurat pangan yang terjadi di Indonesia. Untuk itu, sekolah vokasi kedinasan yang terletak di Jawa Barat ini mengusung tema Peran Penting Implementasi Kesejahteraan Hewan dalam Bisnis Peternakan sebagai Antisipasi Darurat Pangan pada Sabtu (6/7/2024).

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman terus melakukan pembenahan besar-besaran untuk meningkatkan produksi pangan. Amran mengatakan, Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi negara terkuat di dunia melalui pengelolaan pertanian. Karena itu, dia ingin jajarannya bekerja keras dan memiliki integritas. “Saya tidak suka basa basi yang penting capai prestasi. Karena itu saya minta tingkatkan kualitas kerjanya dan untuk merah putih jangan ada yang main-main di sektor pertanian,” ujar Amran.

Senada dengan yang disampaikan Plt. Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi menyampaikan bahwa sektor pertanian merupakan sektor paling penting saat ini dan masa depan. “Krisis pangan terus jadi tantangan bahkan ancaman, karena adanya perubahan iklim dan ketidakpastian kondisi sosial, ekonomi dan politik,” ujar Dedi.

Polbangtan Bogor menggelar Milenial Agriculture Forum (MAF) dengan mendatangkan narasumber praktisi yang ahli di bidang kesejahteraan hewan, yaitu Yudhistira Pratama selaku Chief Suppy Chain Officer dan Gesit Appriyono yang merupakan lulusan Polbangtan Bogor dan saat ini aktif bekerja menjadi Animal Welfare Officer di PT. Kariyana Gita Utama.

Menurut Yudhistira, handling ternak perlu memperhatikan beberapa hal, diantaranya pengecekan seluruh fasilitas sebelum aktivitas, memastikan jalur loading deck dalam kondisi baik, menghilangkan semua hal yang mengganggu pergerakan ternak, kebersihan kandang, pengecekan alat pendukung, aspek keselamatan kerja.

Tidak hanya itu, Yudhistira juga menjelaskan mengenai SOP dalam penanganan ternak. “SOP penanganan ternak perusahaan disesuaikan dengan prinsip tujuan keefektifan penanganan, pencatatan dan pemeliharaan area serta peralatan disesuaikan dengan SOP dan standar K3, residu dan limbah ternak ditangani sesuai standar K3 dan lingkungan dan apabila ada permasalahan segera diselesaikan dan diperbaiki terperinci. Dicatat dan dilaporkan sesuai SOP Perusahaan”, ujar Yudhis.
Implementasi kesejahteraan hewan di Indonesia dapat dilihat dari bagaimana cara Rumah Potong Hewan memberlakukan pemotongan pada hewan ternak sebelum dagingnya didistribusikan untuk dikonsumsi.

Gesit Appriyono mengatakan bahwa beberapa persyaratan untuk memenuhi kesejahteraan hewan di RPH diantaranya peralatan yang digunakan, handling, perebahan dan proses penyembelihan. “Penyembelihan dengan menggunakan stunning (pemingsanan) diijinkan di Indonesia yaitu dengan stunning mekanik non penetrative”, ujar Gesit.

“Penanganan hewan dengan stunning: harus menggunakan restraining box dan sebaiknya dilengkapi dengan penahan kepala dan leher. Stunning adalah proses induksi secara intensif yang menyebabkan sapi kehilangan kesadaran dan respon sensorik tanpa menimbulkan rasa sakit. Indonesia hanya memperbolehkan electric stunning dan concusive stunning dan melarang penetrative stunning. Beberapa RPH belum memiliki restraining box dengan fiksator kepala”, imbuh Gesit.

MAF sendiri bertujuan untuk memberikan wawasan bagi peserta terkait penerapan kesejahteraan hewan dalam usaha peternakan dalam upaya darurat pangan. Dimana pada pengaplikasiannya, mahasiswa ikut berperan dalam mensosialisasikan peran penting kesejahteraan hewan untuk peningkatan produktivitas ternak.

Penulis artikel: Wisda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pengumuman

Berita Lainnya

id_IDID