Tingkatkan Professionalisme SDM Pertanian, Kementan Kuatkan Pendidikan Vokasi

 

BOGOR – https://polbangtan-bogor.ac.id Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo tak hentinya menyatakan bahwa sektor pertanian harus didorong menjadi subsektor ekonomis yang maju, mandiri dan modern.

“Dan hal tersebut harus didukung oleh kapasitas SDM Pertanian yang professional, mandiri dan berdaya saing,” ujar Syahrul.

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi, menyampaikan bahwa petani milenial mempunyai peran penting dalam melanjutkan pembangunan disektor pertanian.

"Sehingga, dibutuhkan dukungan dari SDM pertanian. Selain itu SDM pertanian adalah pengungkit terbesar produktivitas pertanian. Maka pendidikan vokasi menjadi salah satu kunci terhadap cikal bakal lahirnya petani milenial," kata Dedi.

Sebagai upaya peningkatan serta profesionalisme SDM pertanian, Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor menggelar Dissemination Day of Link and Match SMK In Indonesia (LMSINDO) di Hotel Swiss Belinn, Kecamatan Bogor Timur pada Rabu (16/11).

Direktur Polbangtan Bogor, Detia Tri Yunandar menjelaskan diseminasi ini digelar dengan tujuan memaparkan hasil sejumlah kegiatan dalam program LMSINDO yang sudah berlangsung sejak tahun 2019 lalu.

LMSINDO merupakan program kerja sama antara Pemerintah Belanda yakni Maastricht School of Management (MSM) dan Indonesia, yaitu Kementerian Pertanian melalui Polbangtan Bogor sebagai eksekutor proyeknya. Pada pelaksanaannya Polbangtan juga dibantu oleh Universitas Nusa Cendana (Undana), Kupang.

“Program ini bertujuan untuk menguatkan sekolah vokasi tingkat SMK di bidang pertanian dan peternakan. Penerima manfaat pada program ini di antaranya SMK Pembangunan Pertanian (PP) Negeri Kupang dan SMK Waibakil Sumba Tengah,” terang Detia.

Pada LMSINDO berlangsung sejumlah kegiatan yakni training atau pelatihan, magang, bantuan investasi SMK. Bantuan investasi tersebut di antaranya pembangunan laboratorium, pengadaan alat mesin pertanian, pembuatan kandang dan outlet produk siswa.

Pelatihan yang diselenggarakan antara lain problem based learning, project based learning, teacher training, serta multi stakeholder forum (MSF).

“Di MSF ini ada sebanyak 14 partisipan yang berasal dari berbagai institusi misalnya pemerintah, pendidikan, industri, Kamar Dagang Industri (Kadin) dan pihak Belanda yaitu MSM dan LMSINDO. Dari sana kita sepakat untuk membantu perkembangan kedua SMK tersebut,” tuturnya.

Diseminasi tersebut juga dihadiri Polbangtan lain yang ada di Indonesia serta Politeknik Engineering Pertanian Indonesia. Hal ini dilakukan agar dampak yang dirasakan pada program tersebut bisa menjadi percontohan dan berdampak lebih luas.

Kepala Pusat Pendidikan Pertanian, Idha Widi Arsanti sangat mengapresiasi sinergi yang terjalin dalam LMSINDO. Sebab menurutnya banyak keuntungan dan hasil yang didapat dari kerja sama tersebut.

“Beberapa penemuan terkait project based learning, pembuatan kurikukum yang sesuai dengan kebutuhan siswa terutama di sekolah vokasi sangat penting dalam proses pembelajaran. Dengan begitu para siswa akan siap menjadi entrepreneur atau agripreneur yang betul-betul mampu bekerja di sektor pertanian,” jelasnya.

Ia menilai penemuan yang dihasilkan pada program ini amat baik diimplementasikan dan diambil sebagai pembelajaran oleh SMK, Perguruan Tinggi lain di Indonesia.

“Bahkan harapannya bisa dikembangkan ke area yang lebih luas misalnya oleh Kemendikbudristek dan perguruan tinggi terkait pendidikan vokasi,” tutupnya