mail@polbangtan-bogor.ac.id
(0251) 8386312

Mahasiswa STPP Bogor akhiri pendampingan di Kabupaten Lingga

Kami berkeyakinan pendampingan yang dilakukan mahasiswa selama tiga bulan mampu menjadikan Kabupaten Lingga sebagai lumbung pangan Kepulauan Riau.
Bogor (Antaranews Megapolitan) – Sebanyak 25 mahasiswa Sekolah Tinggi Penyuluh Pertanian (STPP) Bogor, Jawa Barat, menyelesaikan misi pendampingan di wilayah perbatasan dalam Program Upaya Khusus Pertanian di Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau (Kepri), selama tiga bulan.

“Hari ini seluruh mahasiswa telah kembali ke kampus, setelah tiga bulan mengikuti program pendampingan pertanian di wilayah perbatasan di Kabupaten Lingga,” kata Soesilo Wibowo Dosen Senior STPP Bogor, Senin.
Soesilo mengatakan mahasiswa STPP Bogor bersama STPP Malang dan Medan secara resmi menyelesaikan tugas pengawalan Upaya Khusus (Upsus) Pajale atau padi, jagung dan kedelai di Kabupaten Lingga, Provinsi Kepri pada 11 Mei 2018.
Selama tiga bulan mahasiswa mendampingi masyarakat petani di Desa Marok Kecil dan Desa Resang untuk mengembangkan pertaniannya.
Kepulangan mereka kembali ke kampus mendapatkan kesan positif dari Bupati Lingga, Alias Wello yang melepas kepulangan seluruh mahasiswa menuju daerah asalnya.
“Kami berkeyakinan pendampingan yang dilakukan mahasiswa selama tiga bulan mampu menjadikan Kabupaten Lingga sebagai lumbung pangan Kepulauan Riau,” katanya.
Selepas menjalakan tugas pendampingan selama tiga bulan, lanjut Soesilo, diharapkan program pendampingan yang tergabung dalam kegiatan praktik kerja lapangan (PKL) tersebut dapat terus berlanjut di masa yang akan datang.
“Karena PKL tersebut telah menimbulkan semangat dan motivasi masyarakat bahkan ikatan batin dengan mahasiswa hingga saat pulang,” katanya.
Menurutnya, program PKL pendampingan Upsus Pajale di masa mendatang dapat mengubah perilaku masyarakat nelayan menjadi petani khususnya bagi masyarakat Desa Resang dan Desa Marok kecil yang berada di pinggir pantai.
“Mengubah perilaku masyarakat yang tadinya nelayan menjadi petani cukup sulit dan butuh waktu lama untuk mampu mengadopsi teknologi pertanian yang diajarkan,” katanya.
Pesan dan kesan selama mengikuti PKL pendampingan Upsus Pajale di Kabupaten Lingga dirasakan oleh Masyarakat Yunus Yuspiani begitu dalam dan banyak manfaat.
Ia mengatakan PKL tersebut memberikan kesempatan yang sangat baik kepada mahasiswa untuk mengenal potensi wilayah Kabupaten Lingga, seperti sumber daya manusianya.
“PKL ini memberi kesempatan bagi kami untuk hidup bermasyarakat,” katanya.
Untuk efektivitas program pendampingan, lanjut Yunus, terlihat dari dan produktivitas padi yang dihasilkan oleh petani Lingga cukup berhasil, karena mencapai 3,2 ton per hektare gabah kering (GKP).
Bupati Lingga dalam sambutan tertulisnya menyampaikan apresiasi atas kontribusi mahasiswa STPP terhadap kemajuan pertanian di wilayahnya.
“Saya sangat mengapresiasi hasil kinerja mahasiswa dalam mendampingi petani selama tiga bulan ini,” katanya.
Wello menambahkan mahasiswa telah memenuhi kewajibannya dengan baik, terjun ke sawah bersama petani, mendampingi, sehingga petani mendapat pengetahuan dan keterampilan dari mahasiswa sedikit demi sedikit.
“Kini petani Lingga semakin paham tentang pertanian. Sektor pertanian ini jauh lebih menjanjikan dibanding sektor lainnya,” kata Wello.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

en_USEN