Dari Urine Sapi Hingga Pertumbuhan Kecambah
Praktikum tidak selalu berakhir pada angka. Di balik setiap kecambah yang muncul, terdapat proses biologis yang dipengaruhi oleh benih, lingkungan, media, dan perlakuan. Hal tersebut menjadi perhatian mahasiswa Kesehatan Hewan Polbangtan Bogor ketika mengamati pertumbuhan kacang hijau dan jagung menggunakan urine sapi dengan kondisi kebuntingan yang berbeda.
Tiga Kondisi Urine, Dua Jenis Tanaman
Pengamatan dilakukan menggunakan urine sapi dari tiga kondisi, yaitu sapi tidak bunting, sapi bunting kurang dari tiga bulan, dan sapi bunting lebih dari tiga bulan. Masing-masing kondisi diuji dengan pengenceran 1/4, 1/10, dan 1/14 pada benih kacang hijau dan jagung. Setiap perlakuan terdiri atas 15 benih. Tinggi tanaman dicatat dalam satuan sentimeter. Benih yang tidak menunjukkan pertumbuhan dicatat sebagai “tidak tumbuh”. Dengan demikian, rata-rata tinggi yang ditampilkan dalam hasil merupakan rata-rata dari benih yang berhasil tumbuh, bukan seluruh 15 benih.
Kacang Hijau Menunjukkan Pertumbuhan yang Lebih Beragam
Pada kacang hijau, hasil pengamatan memperlihatkan perbedaan jumlah benih yang tumbuh di antara perlakuan. Pada urine sapi tidak bunting, pengenceran 1/10 menghasilkan 12 benih tumbuh dari 15 benih dengan rata-rata tinggi 7,77 cm. Pengenceran 1/14 menghasilkan 11 benih tumbuh dengan ratarata 7,71 cm, sedangkan pengenceran 1/4 menghasilkan 11 benih tumbuh dengan rata-rata 3,18 cm. Pada urine sapi bunting kurang dari tiga bulan, pengenceran 1/4 hanya menghasilkan satu benih tumbuh dengan tinggi 2,10 cm. Pengenceran 1/10 dan 1/14 masing-masing menghasilkan tujuh benih tumbuh, dengan rata-rata tinggi 3,01 cm dan 2,87 cm. Sementara itu, pada urine sapi bunting lebih dari tiga bulan, jumlah benih tumbuh mencapai 11 benih pada pengenceran 1/4 dan 13 benih pada pengenceran 1/10 maupun 1/14. Rata-rata tinggi masingmasing adalah 2,54 cm, 5,45 cm, dan 5,55 cm.
Jagung Tumbuh Lebih Terbatas pada Pengamatan Ini
Berbeda dengan kacang hijau, pertumbuhan jagung pada data praktikum ini relatif terbatas. Pada urine sapi tidak bunting dengan pengenceran 1/4, seluruh 15 benih tidak tumbuh. Pada pengenceran 1/14, hanya dua benih tumbuh dengan rata-rata tinggi 4,70 cm. Pada urine sapi bunting kurang dari tiga bulan, jumlah benih tumbuh masing-masing dua, dua, dan tiga benih pada pengenceran 1/4, 1/10, dan 1/14. Rata-rata tinggi yang tercatat adalah 0,85 cm, 3,25 cm, dan 5,30 cm. Pada urine sapi bunting lebih dari tiga bulan, pengenceran 1/4 menghasilkan dua benih tumbuh dengan rata-rata 5,10 cm, pengenceran 1/10 tidak menghasilkan benih yang tumbuh, sedangkan pengenceran 1/14 menghasilkan satu benih dengan tinggi 7 cm.
Rekapitulasi Hasil Pengukuran
Apa yang Bisa Dipelajari dari Data?
Data menunjukkan bahwa respons perkecambahan berbeda antara kacang hijau dan jagung. Pada kacang hijau, persentase benih yang tumbuh pada data yang diperoleh mencapai 86,7% pada perlakuan urine sapi bunting lebih dari tiga bulan dengan pengenceran 1/10 dan 1/14. Sementara itu, rata-rata tinggi tertinggi pada kelompok kacang hijau terdapat pada urine sapi tidak bunting pengenceran 1/10, yaitu 7,77 cm. Pada jagung, persentase benih tumbuh tertinggi dalam data yang tersedia adalah 20,0% pada urine sapi bunting kurang dari tiga bulan dengan pengenceran 1/14. Rata-rata tinggi tertinggi tercatat 7 cm pada urine sapi bunting lebih dari tiga bulan dengan pengenceran 1/14, tetapi angka tersebut berasal dari satu benih yang tumbuh sehingga perlu ditafsirkan secara hati-hati. Hasil tersebut merupakan gambaran dari pengamatan praktikum, bukan kesimpulan umum bahwa satu kondisi urine selalu menghasilkan pertumbuhan yang lebih baik. Perbedaan pertumbuhan juga dapat dipengaruhi oleh kualitas benih, kondisi media, jumlah air, suhu, kelembapan, oksigen, lama pengamatan, serta faktor lingkungan lainnya. Pengujian dengan ulangan yang lebih banyak dan kondisi yang terkontrol diperlukan untuk menarik kesimpulan yang lebih kuat.
Belajar dari Kecambah
Praktikum ini memperlihatkan bahwa pengamatan sederhana terhadap kecambah dapat menjadi sarana untuk memahami respons tanaman terhadap suatu perlakuan. Setiap angka dalam tabel tidak hanya menunjukkan tinggi tanaman, tetapi juga menjadi bahan untuk membaca variasi biologis yang terjadi selama proses perkecambahan. Bagi mahasiswa Kesehatan Hewan, kegiatan ini juga memberikan perspektif bahwa limbah atau hasil samping dari usaha peternakan dapat dikaji pemanfaatannya dalam sistem pertanian. Namun, pemanfaatan tersebut tetap perlu didukung pengukuran yang terkontrol agar hasilnya dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Penulis: Bunga Firsya Aulia
Attachment
No attachments available.
Comments