Tiga Insan Pertanian Gugur di Jayawijaya, Presiden Mahasiswa Soroti Keamanan Petugas Lapangan
BOGOR — Dunia Pertanian Indonesia Kembali diliputi duka. Tiga pegawai Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, gugur dalam peristiwa penembakan yang terjadi di Kampung Muliama, Distrik Muliama, pada Rabu, 9 September 2026.
Ketiga korban tersebut adalah Aprida Rapi (49), Alfonsius Albinus Meha (35), dan Willi Mbuik (25). Mereka merupakan insan pertanian yang tengah melaksanakan tugas kedinasan di lapangan dalam rangka mengantarkan bantuan kepada masyarakat.
Kepergian ketiganya menyisakan duka mendalam, terutama bagi keluarga yang ditinggalkan. Mereka berangkat untuk menjalankan tugas dan memberikan pengabdian kepada masyarakat, tetapi tidak dapat kembali ke rumah dan bertemu dengan keluarga.
Peristiwa tersebut turut mendapat perhatian dari kalangan mahasiswa pertanian. Pada 10 September 2026, Presiden Mahasiswa BEM Polbangtan Bogor menyampaikan belasungkawa sekaligus menyoroti persoalan keselamatan insan pertanian yang menjalankan tugas di wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi.
Menurutnya, ketiga korban tidak seharusnya hanya dipandang sebagai korban dalam sebuah peristiwa kekerasan. Mereka adalah bagian dari insan pertanian yang menjalankan tanggung jawabnya untuk masyarakat. “Bagi kami, mereka bukan sekadar korban. Mereka adalah insan pertanian. Mereka adalah pahlawan pangan.”
Ketika Pengabdian Berhadapan dengan Risiko
Gugurnya tiga pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya menjadi pengingat bahwa pembangunan pertanian tidak hanya berbicara mengenai peningkatan produksi, ketahanan pangan, bantuan pertanian, ataupun pembangunan wilayah.
Di balik berbagai program tersebut terdapat manusia yang bekerja secara langsung di lapangan. Penyuluh, petugas lapangan, pegawai dinas, tenaga teknis, serta berbagai insan pertanian lainnya menjadi bagian penting dalam memastikan program pertanian dapat terlaksana dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Karena itu, Presiden Mahasiswa menilai aspek keselamatan harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari setiap penugasan pertanian, khususnya di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, sudah sejauh mana keselamatan insan pertanian menjadi bagian penting dalam setiap penugasan di wilayah rawan?
Pertanyaan tersebut menjadi refleksi bahwa keberhasilan pembangunan pertanian tidak hanya dapat diukur melalui capaian produksi maupun keberhasilan program, tetapi juga dari sejauh mana negara mampu memberikan perlindungan kepada orang-orang yang berada di garis depan pelaksanaannya.
Mendorong Perlindungan bagi Insan Pertanian
Dalam penyampaiannya pada 10 September 2026, Presiden Mahasiswa mendorong pemerintah dan seluruh pihak terkait untuk tidak berhenti pada penyampaian belasungkawa. Menurutnya, tragedi tersebut perlu menjadi momentum untuk melakukan evaluasi dan menghadirkan langkah nyata dalam melindungi insan pertanian yang bekerja di lapangan.
Setidaknya terdapat empat hal yang menjadi perhatian.
Pertama, pengusutan secara menyeluruh terhadap peristiwa tersebut serta penegakan hukum terhadap pihak yang terbukti bertanggung jawab.
Kedua, evaluasi sistem keamananbagi insan pertanian yang ditugaskan di wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi.
Ketiga, penerapan mitigasi risiko dalam setiap penugasan lapangan, sehingga petugas memiliki perlindungan dan dukungan keamanan yang memadai.
Keempat, menjadikan keselamatan insan pertanian sebagai bagian dari perencanaan sejak awal, bukan sesuatu yang baru menjadi perhatian setelah terjadi korban.
Hal tersebut dinilai penting karena pembangunan pertanian pada akhirnya tetap berpusat pada manusia. Program dapat dirancang dengan baik, tetapi pelaksana di lapangan tetap membutuhkan kondisi kerja yang aman agar pengabdian kepada masyarakat dapat terus dilakukan.
“Membawa Bantuan Pangan, Bukan Senjata”
Salah satu pesan yang disampaikan Presiden Mahasiswa menjadi gambaran kuat mengenai posisi ketiga korban dalam menjalankan tugasnya.
“Mereka membawa bantuan pangan. Bukan senjata. Mereka membawa pengabdian, bukan konflik.”
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa ketiga insan pertanian tersebut berada di lapangan dalam rangka menjalankan tugas dan memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Bagi mahasiswa pertanian, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa perjuangan menjaga ketahanan pangan tidak hanya berlangsung di lahan pertanian. Perjuangan tersebut juga melibatkan manusia yang bersedia turun langsung ke lapangan untuk memastikan berbagai program pertanian dapat dirasakan oleh masyarakat.
Oleh karena itu, pengabdian para insan pertanian yang gugur di Jayawijaya tidak boleh dilupakan.
Menghormati mereka bukan hanya dengan menyampaikan belasungkawa atau mengenang nama mereka, tetapi juga dengan memastikan bahwa insan pertanian yang masih menjalankan tugas mendapatkan perlindungan yang layak serta dapat bekerja dengan aman dan kembali kepada keluarganya.
Pertanian harus tetap berjalan dan ketahanan pangan harus terus diperjuangkan. Namun, pembangunan tidak seharusnya menjadikan keselamatan manusia sebagai harga yang harus dibayar.
Menutup penyampaiannya pada 10 September 2026, Presiden Mahasiswa BEM Polbangtan Bogor Kembali menyampaikan duka cita atas gugurnya tiga insan pertanian di Jayawijaya. Ia berharap pengabdian ketiganya menjadi pengingat pentingnya perlindungan bagi setiap insan pertanian yang menjalankan tugas dilapangan.
Attachment
No attachments available.
Comments